Harlequin (1940-an) – Antihero Berwarna dari Masa Keemasan DC Comics

 

Harlequin versi 1940-an adalah antihero wanita dengan identitas ganda yang memikat dan rumit. Ia mencintai Green Lantern dan menciptakan kisah unik di era awal DC Comics. Simak kisah lengkapnya!


Ketika mendengar nama Harlequin, banyak orang mungkin langsung mengira itu merujuk pada Harley Quinn, karakter populer dari Batman. Tapi jauh sebelum Harley lahir, DC Comics telah memperkenalkan karakter wanita penuh warna bernama Harlequin—yang pertama kali muncul pada era Golden Age dan berinteraksi langsung dengan Green Lantern Alan Scott.

Berbeda dari Harley Quinn, Harlequin (1940s) adalah sosok yang lebih dekat ke arah antihero romantis, seorang wanita cerdas, penuh gaya, dan memikat yang melakukan kejahatan ringan demi menarik perhatian sang pujaan hati—sambil tetap memegang prinsip moral yang kuat.


Asal-Usul dan Identitas

Harlequin debut dalam All-American Comics #89 (1947) dan diciptakan oleh Robert Kanigher dan Irwin Hasen. Nama aslinya adalah Molly Mayne, seorang sekretaris biasa yang diam-diam jatuh cinta pada Alan Scott—Green Lantern generasi pertama dari Justice Society of America (JSA).

Merasa tidak dilirik dan terinspirasi oleh tren pahlawan dan penjahat super, Molly menciptakan identitas rahasia sebagai Harlequin: wanita flamboyan bertopeng, mengenakan kostum berwarna-warni, dan bersenjatakan tongkat khusus serta trik sirkus untuk menarik perhatian Alan.

Uniknya, Molly tidak memiliki kekuatan super alami—semua kemampuannya berasal dari alat buatan dan keterampilan. Ia dikenal menggunakan:

  • Kacamata ilusi untuk menciptakan halusinasi visual

  • Tongkat akrobat untuk melompat dan bertarung

  • Trik-trik komedi slapstick ala badut sirkus


Dinamika Cinta dan Konflik Moral

Salah satu tema menarik dalam kisah Harlequin adalah perjuangannya antara cinta, identitas, dan kejahatan. Ia bukan penjahat sejati. Ia mencuri, membuat kerusakan kecil, tapi tidak pernah membunuh atau menyakiti orang tanpa alasan.

Tujuan utamanya selalu sama: menarik perhatian Green Lantern.

Namun semakin ia berinteraksi dengan Alan Scott, Harlequin mulai merasakan konflik batin antara rasa cintanya dan panggilan moralnya. Ia tidak ingin menjadi musuh sang pujaan hati, tapi juga tidak bisa menyerah begitu saja.

Beberapa kali, ia justru membantu Green Lantern melawan penjahat lain, bahkan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain. Ini membuat Alan mulai melihat sisi lain dari Harlequin.


Hubungan dengan Green Lantern dan JSA

Seiring waktu, kisah cinta antara Molly dan Alan berkembang. Alan Scott perlahan mulai menyadari bahwa Molly adalah orang yang jujur, berani, dan penuh kasih, meski menyembunyikannya di balik kostum mencolok dan tindakan kriminal.

Dalam cerita pasca-Perang Dunia II, mereka akhirnya menjalin hubungan serius dan menikah, menjadikan Molly Mayne salah satu dari sedikit penjahat era Golden Age yang menjadi istri superhero utama.

Molly juga sempat berinteraksi dengan anggota Justice Society of America, dan meski bukan anggota resmi, ia beberapa kali membantu mereka dalam misi atau menyelamatkan anggota tim dari ancaman luar.


Perubahan di Era Modern

Di era modern DC Comics (Post-Crisis dan seterusnya), karakter Molly Mayne/Harlequin direkonstruksi sebagai mantan penjahat yang telah pensiun dan hidup bersama Alan Scott. Mereka hidup tenang, meski sesekali Molly terlibat dalam urusan metahuman karena masa lalunya.

Namun, konsep "Harlequin" tidak berhenti di Molly. DC memperkenalkan beberapa inkarnasi Harlequin baru, seperti:

  1. Duela Dent – Gadis gila yang mengaku sebagai anak dari banyak penjahat dan pernah memakai nama Harlequin

  2. Marcie Cooper – Harlequin jahat yang bekerja untuk Manhunters

Meski demikian, Molly Mayne tetap menjadi Harlequin orisinal, karakter dengan motif personal, warna warni klasik, dan nuansa romansa yang khas era 1940-an.


Kekuatan dan Kemampuan

Harlequin (Molly Mayne) tidak memiliki kekuatan super, tapi tetap menjadi karakter yang menarik dan tangguh berkat:

  • Kecerdasan tinggi

  • Kreativitas dalam menyusun rencana dan melarikan diri

  • Kemampuan bela diri dasar dan akrobatik

  • Penguasaan alat-alat unik seperti kacamata ilusi dan tongkat trik

Kelebihannya terletak bukan pada kekuatan fisik, tapi pesona, kelicikan, dan dedikasi emosional yang jarang ditemui dalam karakter wanita era Golden Age.


Simbolisme dan Tema

Harlequin membawa beberapa tema kuat yang menarik bahkan untuk era modern:

  • Cinta tak terbalas dan pengorbanan

  • Identitas ganda sebagai perlindungan diri

  • Wanita yang menolak menjadi “pendamping diam”

  • Antara kejahatan ringan dan panggilan moral

Ia menjadi simbol karakter abu-abu di tengah hitam-putihnya kisah pahlawan dan penjahat zaman dulu. Ia tidak pernah ingin menguasai dunia, hanya ingin diakui dan dicintai—dengan caranya sendiri.


Penampilan dalam Media Lain

Sayangnya, Harlequin (Molly Mayne) belum pernah tampil dalam film atau serial live-action maupun animasi utama. Namanya sering tertukar dengan Harley Quinn, meski tidak berkaitan satu sama lain.

Namun ia pernah disebut dan ditampilkan dalam:

  • 📚 Secret Origins, JSA, dan Green Lantern Corps Quarterly (sebagai istri Alan Scott)

  • 🧾 Flashback dalam Justice Society dan Stargirl versi komik

  • 🖼 Komik nostalgia bertema Golden Age

Dengan minat baru terhadap karakter klasik dan sejarah JSA dalam DCU modern, Harlequin layak diangkat kembali, minimal sebagai karakter pendukung dengan nuansa retro atau bahkan dalam serial Stargirl sebagai tokoh nostalgia.


Potensi untuk Dihidupkan Kembali

Karakter seperti Harlequin bisa tampil kembali dalam:

  • Serial periode seperti Justice Society: Origins

  • Flashback dalam film Alan Scott atau Green Lantern Corps

  • Prekuel kisah cinta Golden Age dengan gaya noir dan romansa klasik

  • Cerita alternatif atau Elseworlds di mana Molly menjadi pahlawan utama

Desain kostumnya yang berani dan penuh warna bisa sangat menonjol dalam animasi atau adaptasi visual modern.


Kesimpulan

Harlequin (Molly Mayne) adalah karakter yang mencerminkan warna, romansa, dan kompleksitas manusia dalam balutan dunia superhero. Sebelum Harley Quinn mencuri panggung, Molly telah menempuh jalan cinta dan konflik batin dengan pesona sirkus dan semangat yang tak tergoyahkan.

Ia bukan hanya penggoda pahlawan—ia adalah pahlawan dalam caranya sendiri, yang membuktikan bahwa bahkan dalam dunia yang dipenuhi kekuatan besar, hati yang penuh cinta bisa mengguncang lebih dari senjata mana pun.