Hawkeye: Bullseye (Dark Avengers - Earth-616)

 

Ketika Norman Osborn membentuk Dark Avengers, ia menunjuk Bullseye—pembunuh kejam—sebagai Hawkeye. Inilah saat di mana simbol kebaikan dibajak oleh kekuatan jahat.



Nama Hawkeye identik dengan keadilan, ketepatan, dan keberanian manusia biasa. Tapi di masa tergelap Marvel Universe, nama ini dicuri dan digunakan oleh salah satu pembunuh paling berbahaya: Bullseye. Saat Norman Osborn membentuk Dark Avengers, ia menyusun tim pahlawan palsu dengan penjahat yang menyamar sebagai pahlawan. Bullseye pun mengenakan kostum Hawkeye—membalik citra heroik menjadi wajah teror yang mematikan.


Latar Belakang Bullseye

Bullseye adalah musuh bebuyutan Daredevil. Ia dikenal karena:

  • Kemampuan melempar objek apa pun sebagai senjata mematikan

  • Kecenderungan psikopat, membunuh tanpa penyesalan

  • Kemampuan fisik dan mental di atas rata-rata manusia

Nama aslinya tidak pernah secara resmi dikonfirmasi, tetapi identitasnya sebagai pembunuh bayaran tanpa moralitas membuatnya menjadi ancaman besar. Saat berpura-pura menjadi Hawkeye, ia tidak berubah menjadi pahlawan—melainkan menyamar sambil tetap membunuh dengan brutal.


Dark Reign dan Manipulasi Norman Osborn

Setelah peristiwa Secret Invasion, Norman Osborn menjadi pahlawan nasional karena membunuh Queen Veranke (Skrull ratu). Dengan kekuasaan barunya, ia membentuk Dark Avengers sebagai versi palsu dari Avengers. Alih-alih memilih Clint Barton asli, ia menunjuk Bullseye untuk memakai kostum Hawkeye.

Bullseye pun mengenakan seragam ungu dan membawa panah—tapi bukan untuk menyelamatkan orang, melainkan untuk menembak lawan dan kadang… rekan sendiri.


Tindakan Brutal Sebagai Hawkeye

Beberapa misi awal Bullseye sebagai Hawkeye menunjukkan betapa salahnya keputusan Osborn:

  • Membantai musuh dengan presisi tanpa peringatan

  • Menembak tawanan yang menyerah

  • Mengabaikan keselamatan sipil

  • Menggoda rekan setim dan mempermalukan simbol Hawkeye

Dalam satu insiden, Bullseye membunuh seorang wanita hanya karena dia "berisik", lalu mengatakan itu sebagai “keputusan taktis.” Osborn menutupi tindakan ini dengan manipulasi media, menggambarkan Bullseye sebagai pahlawan yang disalahpahami.


Konflik dan Ketegangan Dalam Tim

Rekan-rekan Bullseye di Dark Avengers seperti Venom (Mac Gargan) dan Daken (putra Wolverine) pun tidak percaya padanya. Meskipun mereka semua penjahat, Bullseye dianggap terlalu tidak stabil bahkan untuk standar mereka.

Ia kerap membuat konflik internal, mengancam rekan, dan bertindak tanpa koordinasi. Hal ini membuat Dark Avengers menjadi tim penuh ketegangan, meskipun di mata publik mereka dipuja sebagai penyelamat.


Perbedaan Mendasar dengan Clint Barton

AspekClint BartonBullseye sebagai Hawkeye
TujuanMenegakkan keadilanMembunuh demi kesenangan dan misi
MoralitasTinggi, penuh empatiTidak ada moral, nihilistik
Gaya bertarungTaktis, efisien, defensifSadis, ofensif, kejam
Reputasi publikDihormati oleh rekan dan masyarakatDipuja karena kebohongan media

Penurunan Reputasi Nama Hawkeye

Penggunaan nama Hawkeye oleh Bullseye membuat banyak orang—termasuk pahlawan asli—merasa geram. Clint Barton sendiri akhirnya kembali dan secara publik mengutuk Dark Avengers. Ia bahkan memutuskan untuk menjatuhkan Osborn dan para peniru itu satu per satu, demi memulihkan nama Hawkeye.

Pertarungan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbolis. Clint bertarung untuk merebut kembali kehormatan yang dicuri darinya.


Akhir dari Penyamaran

Dalam event Siege, kebenaran tentang Dark Avengers terungkap. Bullseye akhirnya terbunuh oleh Moonstone (Ms. Marvel jahat) setelah pertarungan brutal. Kematiannya disambut lega oleh banyak pahlawan, yang merasa identitas Hawkeye akhirnya bisa "dimurnikan" kembali.

Nama Hawkeye pun dikembalikan kepada Clint dan Kate Bishop secara penuh, menandai berakhirnya era manipulasi Osborn dan distorsi nama pahlawan.


Kesimpulan

Bullseye sebagai Hawkeye adalah distorsi mengerikan dari apa arti seorang pahlawan. Ia mencerminkan bagaimana kekuasaan dan manipulasi bisa mencuri identitas, merusak simbol, dan mengacaukan persepsi masyarakat. Namun kisah ini juga mengingatkan bahwa simbol sejati tidak bisa dibajak selamanya—dan bahwa kebenaran, meski tertutup kebohongan, akan selalu bangkit kembali.